Wajib Diperhatikan! Inilah Indikator yang Bagus untuk Trading Forex

indikator Bollinger Bands
indikator Bollinger Bands

Sebagai seorang traderForex, Anda pasti sudah tidak asing lagi jika mendengar istilah indikator, dalam metode dunia trading. Salah satunya yaitu istilah indikator teknikal, yang pada umumnya dipasang pada chart harga. Indikator tersebut akan digunakan oleh para traderuntuk membaca sinyal, mengetahui arah tren pasar Forex, dan konfirmator sinyal. Lalu apa indikator yang bagus untuk trading Forex ini?

Selain itu fungsi utama dari indikator adalah membantu memetakan kondisi pasar terkini, dan memprediksi pergerakan harga di masa depan ,berdasarkan grafik yang telah terbentuk. Sementara untuk jenisnya, indikator terbagi menjadi dua, yaitu Leading dan Lagging,yang memiliki pergerakan masing-masing. Mengenai hal itu, yuk simak penjelasannya berikut ini!

4 Jenis Indikator yang Bagus Untuk Trading Forex

Perlu Anda tahu bahwa ada 4 jenis indikator ,yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Diantaranya:

1. Trend Following – Indikator yang Menunjukkan Arah Trend

Sebelumnya perlu Anda ketahui ,bahwa yang dimaksud dengan trend, merupakan suatu bentuk pergerakan harga ke berbagai arah. Trend bisa  terjadi secara naik turun dalam pasar Forex, dan  terjadi secara terus menerus.

Pada umumnya, para trader lebih memilih untuk bisa masuk pasar sesuai dengan arah trend utama. Karena cara tersebut terbukti sangat profitable,saat melakukan trading. Namun meskipun tradingyang dilakukan tanpa mengikuti arah trend, atau melawan arah trend, sebenarnya kemungkinan bisa juga menghasilkan profit.

Hanya saja, lebih besar peluang yang mungkin dapat diperoleh, bilamana mengikuti arah trend. Jadi maksud dari strategi dengan mengikuti tren atau trend following ini merupakan strategi yang menentukan, kapan Anda harus buy atau sell secara searah, dengan trend pasar yang sedang berlangsung.

Baca Juga : 9 Broker Forex Resmi Di Indonesia Deposit Rendah yang Aman

Lalu agar Anda bisa mengetahui suatu trend yang sedang berlangsung atau tidak, maka Anda bisa melakukan pelacakan keadaan trend oleh sebuah indikator yang mengikuti arah trend. salah satu contoh indikator teknikal yang memiliki sifat sederhana trend – following dan cukup powerfullserta banyak digunakan, adalah indikator Simple Moving Average (SMA).

Jadi Anda bisa melacak trend dengan menggunakan indikator tersebut dengan cara memasang dua indikator SMA dengan periode yang berbeda, misalnya SMA – 50 DAY dan SMA – 200 DAY. Berikut ini adalah contoh dari pelacakan trend dengan metode perpotongan 2 garis kurva indikator SMA.

indikator SMA

Saat menggunakan indikator SMA, maka Anda bisa melakukan entry buy ,saat harga bergerak diatas garis kurva SMA periode pendek ,yaitu SMA – 50 DAY, yang menunjukkan Uptrend sangat kuat. Atau bahkan saat sedang sell, yaitu ketika harga bergerak di bawah garis kurva SMA periode pendek, yang menunjukkan Downtrend sedang kuat.

2. Trend Confirmation – Indikator Teknikal untuk Konfirmasi Arah Trend

Pada umumnya, indikator arah trend yang Anda miliki mungkin saja rawan mengalami kesalahan sinyal. Oleh karena itu Anda perlu sebuah indikator tambahan, yang bisa mengukur, apakah arah yang ditunjukkan oleh indikator SMA tersebut sudah benar atau salah.

Meski begitu, jenis indikator ini bukanlah sebagai konformasi untuk entry, tapi hanya untuk mengonfirmasi arah trend yang ditunjukkan oleh indikator SMA. Indikator yang dimaksud adalah yang dikenal dengan nama MACD (Moving Average Convergence Divergence).

Jadi kesimpulannya, jika indikator SMA dan MACD mengisyaratkan bullish,maka persepsi traderadalah buy. Sementara jika kedua indikator tersebut mengisyaratkan bearish, maka persepsinya adalah sell. Berikut ini adalah contoh kombinasi dengan indikator MACD sebagai konfirmator trend dengan keterangan biru : kurva MACD, merah : kurva sinyal.

indikator MACD

Jadi arah trend tersebut bisa dikonfirmasikan dengan pergerakan garis kurva MACD itu sendiri, maupun garis-garis histogram OSMA (Oscillator Moving Average). Sehingga bisa dikatakan, tampilan trend garis kurva MACD mencerminkan trend pergerakan harga, saat sedang bergerak uptrend,hingga akan terbentuk titik-titik higher highs (level tinggi yang makin tinggi). Baik yang terjadi pada pergerakan harga, maupun pada kurva MACD.

Begitu juga saat bergerak downtrend, maka akan terbentuk titik-titik lower lows(level rendah yang makin rendah) pada keduanya. Apalagi saat kurva MACD dan kurva sinyal tersebut berpotongan, maka kemungkinan akan terjadi perubahan arah trend. Namun arah trend juga bisa dikonfirmasi dengan garis histogram OSMA.Sehingga makin tinggi garis OSMA, maka makin kuat trend yang sedang terjadi.

Baca Juga : 5 Aplikasi Trading Forex Terbaik untuk Pemula

3. Indikator Overboughtdan Oversold– Indikator Momentum Untuk Entry

Indikator yang bagus untuk trading Forex dalam mencari peluang yang tepat untuk entry adalah  indikator momentum. Setelah Anda mengetahui mengenai arah trend, maka langkah selanjutnya adalah mencari peluang yang tepat untuk entry. Sebaiknya, Anda jangan langsung entry,agar tahu kondisi kekuatan trendsaat itu, apakah sedang kuat, atau mendekati level jenuhnya.

Maksud dari level jenuh adalah rawan terjadinya koreksi (retracement).Karena koreksi yang berlanjut bisa menyebabkan arah pergerakan harga berbalik arah (reversal). Jadi waktu yang tepat untuk melakukan entry,adalah momentum saat pullback, atau harga kembali bergerak sesuai arah trend setelah adanya koreksi.

Jadi indikator momentum ini digunakan untuk mengetahui tingkat kejenuhan suatu pergerakan harga, dan tingkat kejenuhan yang diukur dengan keadaan overbought(jenuh beli) dan oversold (jenuh jual). Untuk tipe indikator yang menunjukkan keadaan tersebut yaitu dengan menggunakan tipe Oscillator, dan yang populer adalah Relative Strength Index (RSI) dan juga Stochastic.

indikator RSI

Secara umum, sinyal trading diperoleh dari kondisi overbought dan oversold, dengan aturan yang berlaku diantaranya, bilamana kondisi overbought diperoleh saat garis RSI memotong level 70, maka bisa segera dilakukan entry sell. Kemudian jika kondisi oversold,yaitu saat garis RSI memotong level 30, maka bisa langsung segera melakukan entry buy.

Perlu Anda ingat, dalam melakukan tradingdengan indikator teknikal faktor, yang paling penting adalah penyesuaian (matching) antara pergerakan harga, dengan pergerakan indikator teknikal pada saat yang bersamaan. Jadi saat entry, Anda bisa menyesuaikan dengan pergerakan indikator Moving Average.

4. Profit Taking – Indikator Teknikal untuk Menentukan Level Exit

Langkah selanjutnya setelah entry adalah harus mengetahui level yang paling optimal untuk exitdari pasar, dan tidak hanya berdasarkan perkiraan semata. Berdasarkan penjelasan diatas, RSI juga bisa digunakan sebagai indikator untuk exitatau Take Profit. Jadi pada saat posisi buy, Anda bisa exit, ketika RSI mencapai level overbought.

Tapi sebaliknya, jika posisi sell, maka Anda bisa melakukan exitketika RSI mencapai level oversold. Karena RSI memang kurang cocok digunakan untuk kondisi trading. Maka untuk menghindari kesalahan, traderjuga bisa menggunakan indikator Bollinger Bands (BB).

indikator Bollinger Bands

Jadi jika pada saat posisi buy, maka Anda bisa exit, ketika harga telah menembus Upper Band (pita atas Bollinger Bands). Sementara untuk posisi sell, maka traderbisa melakukan exitsaat harga menembus Lower Band (batas bawah Bollinger Bands). Para traderjuga bisa memaksimalkan profit, dengan menerapkan teknik trailing Stop.

tulah penjelasan selengkapnya mengenai  indikator yang bagus untuk trading Forex, beserta tahapan-tahapan yang tepat yang bisa Anda pilih untuk melakukan tradingForex ini. Semoga informasi ini  bermanfaat, dan selamat mencoba!